Arsip Kategori: GIS

QGIS SVG Maki, REGEX

Mapbox memiliki koleksi icons, namanya Maki ( https://github.com/mapbox/maki ), dan isinya SVG 11×11 pixels dan SVG 15×15 pixels. Icons tersebut bisa kita masukkan ke QGIS, namun sayangnya opsi mengubah kolor eh colour nya ngga keluar. Usut punya usut, terpaksa saya buka SVG nya dengan Notepad++ dan ternyata memang SVG bawaan QGIS agak sedikit berbeda.

SVG Paramters untuk maki15 tidak ada yang bisa diubah, sehingga kita tidak bisa mengganti kolornya …

Ternyata, SVG bawaan QGIS memiliki param(fill), param(outline) dan juga param(outline-width)

Untuk pembanding, terlihat SVG Maki tidak memiliki param, dan perhatikan width=”15px” dan juga height=”15px” sangat mengganggu

Kenapa Width dan Height yang hanya 15pixel mengganggu…? Ngga juga sih sebenarnya di QGIS, karena otomatis di resize, namun kalau kita preview, gambar 15×15 pixel itu ngga terlalu nampak … karena memang Maki ini hanya digunakan untuk icon marker.

SVG QGIS ukurannya 580×580 …

Nah, agar sedikit mengikuti QGIS, tinggal diubah ukuran height dan width menjadi 580 … (jangan diubah viewBox karena itu relatif terhadap path)

Dan, tinggal dicopy-paste param nya …

diubah width dan ditambahkan param
perhatikan sekarang ikon menjadi 580×580 … awalnya hanya 15×15 pixels, sangat kecil dibuka di IE

dan sekarang SVG memiliki parameter …

Dengan begini, kita bisa membuat SVG yang bagus untuk Composer peta kita di QGIS

Regex Replace

Find in Files pad Notepad++ dengan menggunakan Regular Expression pada Search Mode. Perhatikan bahwa tools ini sangat destruktif, dan dapat merusak data Anda jika Anda tidak hati-hati!

Setelah kita tahu permasalahannya, mengganti setiap path satu-satu untuk file SVG sebanyak itu juga bukan pekerjaan mudah …

Namun, Notepad++ punya solusi untuk Anda, yaitu dengan menggunakan Replace eh Find in Files

Kita tinggal cari dengan Regular Expression pola yang harus diganti, lalu biarkan Notepad++ menggantinya otomatis untuk Anda.

Ada yang perlu dicatat di sini, yaitu beberapa karakter perlu di-escape, yaitu tanda kurung.

Find:

<path (.[^/>]*)/>

Replace

<path $1  fill="param\(fill\)" fill-opacity="param\(fill-opacity\)" stroke="param\(outline\)" stroke-opacity="param\(outline-opacity\)" stroke-width="param\(outline-width\)" />

Perhatikan bahwa kita perlu meng-escape tanda kurung!

Apaan tuh Regex?

Regex, atau regular expression, atau ekspresi regular, memang bukan mainan rakyat jelata. Ini lebih sering digunakan oleh anak Ilmu Komputer, yang mengambil mata kuliah Teori Bahasa dan Automata.

Dengan Regex, kita bisa lebih cepat membuat pola. Pola ini nanti bisa komputer mencarinya. Kita juga bisa membuat pola untuk ekspresi pengganti.

Sederhananya, jika Anda menguasai regex, Anda tidak akan repot lagi mencari dan mengganti ekspresi kata maupun kalimat.

Sayangnya, bukan untuk rakyat jelata …

Penutup

Tampilan akhir, SVG kita sedikit lebih aneh bentuknya, tidak hitam lagi!

Kalau Anda tidak ada melakukan kesalahan, sekarang otomatis SELURUH SVG kita akan berubah bentuknya di QGIS, menjadi tidak hitam lagi, namun sedikit abu-abu dan ada strok nya.

Sekarang, kita bisa bebas memilih warna untuk SVG kita!

gdalwarp via cmd berbeda dengan via QGIS

Masih bingung kenapa hasil gdalwarp QGIS dan via gdalwarp.exe bisa berbeda hasilnya, ya?

Kok bisa berbeda ya?

Kedua gambar tersebut merupakan hasil gdalwarp dari WGS84 (EPSG:4326) ke World Sinusoidal (EPSG:54008)

World Sinusoidal (EPSG:54008) kalau menggunakan vektor

GeoServer Vector Tile

Salah satu kelebihan GeoServer dibandingkan server WebGIS lain adalah dukungannya terhadap Vector Tile. Mungkin Anda jarang mendengar vector tile, karena biasanya data vektor kita dirender menjadi raster lalu barulah kemudian dibuat raster tile. Ada banyak keunggulan vector tile, karena yang dikirimkan ke client adalah vector, sehingga bisa dibuat animasi, detail yang lebih sempurna, rotasi, 3D, dan sebagainya. Kekurangannya adalah dukungan peramban (di sisi client).

Tetapi, sekarang sudah hampir semua telepon genggam sudah pintar dan mampu menampilkan vector tile. Jadi, tidak ada salahnya kita ikut menyajikan-nya pula.

Untuk membuat GeoServer Anda mendukung vector tile, Anda cukup download extensinya, lalu extract ke WEB-INF/lib folder geoserver Anda.

Nah, coba lihat dahulu sebuah vector layer Anda, sebelum diinstall, Tile Caching nya hanya raster saja…

sekarang, kita coba Stop Geoserver, lalu Start kembali. Me-reload tidak menginstall extension…

Eh, kalo sial, Anda akan mendapatkan Access Denied seperti saya ini … bukan karena salah password, tetapi karena sudah expire … reload saja lagi … (terakhir login tadi malam)

Setelah di stop dan di start lagi, sekarang GeoServer memiliki kemampuan menghasilkan vector tile! Selamat!

Nah, sekarang adalah bagaimana menggunakannya …

Untuk menggunakan vector tile, Anda perlu OpenLayers baru dan juga Leaflet baru (dengan plugin)

Untuk sementara, kita gunakan ol (openlayers) saja …

Sample kodingan dari GeoServer User Manual, Release 2.16.0 halaman 1692-3 bisa langsung jalan … saya hanya perlu mengubah nama layer nya saja …

Oh, iya ada lagi yang saya ubah … daripada download openlayers yang lumayan gede, saya cukup panggil CDN nya saja …

<script src="https://cdn.rawgit.com/openlayers/openlayers.github.io/master/en/v6.1.1/build/ol.js"></script>
<link rel="stylesheet" href="https://cdn.rawgit.com/openlayers/openlayers.github.io/master/en/v6.1.1/css/ol.css">

dengan menggunakan CDN tidak perlu download dan extract ol.js nya … hehehehe

Tomcat dan GeoServer, WMS dan Mission Planner

Mohon maaf sudah lama ngga nulis di blog ini. Jadi ingin share dikit masalah GeoServer.

Ceritanya, Sabtu kemaren saya kedatangan tamu, adik saya dari Libo (Minas), dan membahas tentang Mission Planer. Beliau memang seorang pilot dron untuk perkebunan. Nah, Mission Planer ini agak susah diutak atik tile layernya. Walaupun sudah ada inbuilt Google Satellite dan ESRI World Imagery dan bermacam-macam lainnya, tetapi kurangnya opsi menambahkan tile sendiri benar-benar susah untuk pilot yang butuh plan terbang presisi tinggi (misalnya untuk dron penyemprot insektisida/fungisida/herbisida).

Presisi citra satelit mata-mata sudah cukup bagus, sudah sekitar 30cm (sepertinya setelah di-pan-sharp), namun coverage nya ngga bagus atau kadang sudah cukup tua.

Nah, pilot padahal memiliki sendiri citra ortofoto resolusi dibawah 3cm, namun susah dijadikan sebagai base-map di Mission Planner. Saya coba buat dengan Qtile plugin di QGIS, tapi no luck, ngga ada yang tampil di sana … sepertinya mungkin format ZYX atau WMTS …. saya tidak tahu … ngga ada dokumentasi … ada yang tau?

Nanya di forum, disuruh menggunakan WMS … dan memang jalan…

Alhamdulillah …

Namun, ada sedikit kendala, tidak terlalu mengganggu, yaitu CACHE WMS yang sepertinya kurang bagus handling nya oleh si Mission Planner, sehingga terkadang ada ubin yang tidak diloadnya.

Masalah berikut adalah bagaimana mengajarkan WMS pada seorang non-IT.

Solusi terbaik adalah menggunakan GeoServer.

Kalau untuk mahasiswa saya, lebih sering saya suruh pakai UMS MapServer, namun, file *.MAP nya berbentuk teks yang slaahkteik sedikit akan sulit mendebug hasilnya, walaupun sekarang sudah ada MapManager nya.

GeoServer kampret nya adalah versi terbaru TIDAK LAGI DILENGKAPI dengan installer di Windows!

Padahal, hampir semua tutorial install nya masih menggunakan *.EXE tadi … ini sedikit kendala saat saya harus memberi tugas ke mahasiswa #calonserjana kompor tapi malas baca …

Masalah ini pernah dibahas di StackExchange juga …

https://gis.stackexchange.com/questions/331485/required-windows-installer-for-geoserver-2-15-2

Nah, permasalahan ternyata masalah FUNDING, dana, duit yang kaga ada … hehehehe

lack of funding …

Nah, saya tau bahwa GeoServer adalah sebuah Servlet yang dibuat menggunakan bahasa Java, yang bisa jalan di Apache Tomcat ataupun Jetty

Di sini lah masalahnya. Tutorial menginstall Tomcat ataupun sejenisnya ini sangat minim.

Seingat saya, dulu harus dulu di install JDK (Java Development Kit) yang bisa didownload dari Oracle (dulunya SUN, sebelum dibeli)

Anda dapat mendownload JDK di sini:

https://www.oracle.com/technetwork/java/javase/downloads/jdk13-downloads-5672538.html

Silahkan Agree dulu dengan lisensi, lalu download JDK, dan install.

Setelah di-install JDK, kita perlu meng-set Environment Variable agar komputer tahu di-mana JAVA_HOME itu. (Well, sebenarnya bisa saja menggunakan regedit (reg))

Create or edit variable JAVA_HOME to your newer JDK directory, without trailing slash

Nah, setelah Anda yakin sistem variable JAVA_HOME Anda benar, Anda dapat menginstall tomcat.

Nah, versi TOMCAT itu ada banyak juga, dan saya sarankan Anda menggunakan yang versi SERVICE pada Ms Windows!

Tentu ini akan lebih memudahkan Anda untuk mengakses GeoServer nantinya tanpa harus menjalankan dahulu si tomcat yang terkadang cukup ngeselin lamanya dimulai.

Ngga enaknya adalah tentu start-up Anda sedikit lebih berat ya … karena nambah service yang jalan … solusi dikit adalah dengan mengganti Tomcatnya dari Auto menjadi Delayed

Kenapa di delay dikit? karena saya tidak setiap waktu menggunakan Tomcat ini …

Menginstall Tomcat

Barangkali ada yang tidak tahu tomcat, silahkan download tomcat dari

https://tomcat.apache.org/download-90.cgi

Nah, perhatikan bahwa Anda sebaiknya mendownload yang mendukung service.

Kalau saya, lebih suka versi FULL saja di install, nanti kapan kapak kita bahas …

Nah, sekarang masalah port … port 80 adalah disarankan KALAU anda tidak memiliki HTTP server lain di komputer Anda. Namun, karena saya sudah punya banyak sekali web server, terpaksa Tomcat mengalah menggunakan port 8080 (default) nya saja.

Minusnya, Anda harus mengakses http://localhost:8080/ daripada http://localhost/ saja yang lebih simple

password admin-gui tidak harus … kecuali nanti untuk multi tenant atau deploy dari jaringan .., kalau punya akses ke komputer langsung sih ngga ngaruh…

Nah, kemudian, Tomcat butuh JAVA … berhubung tadi saya punya JRE, sebaiknya menggunakan JDK saja …

Ganti ke JDK menurut saya lebih baik … karena lebih banyak tools yang bisa digunakan …

Kalau untuk tempat meng-install, saya sarankan drive D saja, biar saat di inul (install-ulang) nanti, file nya ngga terganggu…

btw, keliatan banget harddisk gw sudah mau penuh ya …

Installing GeoServer

Seperti telah dibahas di atas, silahkan download GeoServer yang versi WAR nya saja …

jika sudah, Anda bisa extract WAR tadi di folder Tomcat9/webapps/

Jika Tomcat lagi jalan, otomatis dibuatkan olehnya folder geoserver …

Namun, Anda masih belum bisa mengakses /geoserver pada tomcat Anda. Anda perlu aktifkan dahulu di Tomcat Web Application Manager

pencet tombol Start di baris Applications /geoserver

Nah, Anda akan bisa meng-aksesnya …

Anda bisa juga sebenarnya mendeploy WAR tadi dengan meng-upload (unggah), jika Anda tidak punya akses fisik ke server.

Administrasi Geoserver

Silahkan akses http://localhost:8080/geoserver Anda, maka Anda akan disuguhkan kotak teks login di atas laman-nya…

login dengan admin geoserver

username: admin

password: geoserver

Kalau Anda terhubung ke jaringan, ada baiknya Anda mengganti password ini … tapi kalau Anda lupa, tanggung sendiri … saya biasanya membiarkan saja

Menambah Workspace

Pertama kali, Anda perlu menambahkan Workspace, ruangKerja. Workspace nanti akan memiliki beberapa Stores yang bisa otomatis menjadi layer (lapisan) Anda.

Menambahkan Store

Pada menu Stores, klik tautan Add new Store

Terlihat ada banyak sekali sumber datum (jamak: data) yang bisa Anda masukkan. Kali ini saya ingin meng-upload hasil dron beberapa waktu yang lalu, jadi saya pilih Raster Data Sources –> GeoTIFF

Yang saya lakukan ini tidak disarankan, yaitu mengakses di luar folder data geoserver, yaitu mengakses langsung drive D: saya…

Kalau untuk production, ini ngga baik, karena bisa saja nanti ada bugs / security-hole pada tomcat, dan anda memberikan hakAkses ke tomcat pada direktori lain … tapi … itu urusan nanti … sekarang kita biarkan saja … toh untuk belajar ..

Metode terbaik adalah Anda unggah file Anda ke direktori data geoserver, lalu tinggal pilih yang mana yang dijadikan datasource. Metode ini memungkinkan kita untuk membatasi tomcat untuk hanya bisa membaca ke folder tersebut.

Mem-publish Layer

Layer Preview

Untuk melihat apakah sukses Anda menambahkan layer, kita bisa melihatnya dari menu Data -> Layer Preview … lalu klik tautan OpenLayers untuk menggunakan JavaScript OpenLayers menampilkan data kita.

Memulai Mission Planner

Mission Planner Flight Plan

Menambahkan WMS Custom

2019-11-11_05-55-01

Pilih lah WMS Custom pada Flight Plan tadi

silahkan masukkan URL layer preview tadi, yaitu layanan WMS kita

terkadang, Anda harus memasukkan pilihan layer lagi …

ketik 0 (angka nol)

Voila … terkadang agak tunggu beberapa detik agar terload sempurna tile nya…

Sekarang MissionPlaner kita punya bg peta hasil dron kita sendiri …

Kalau sejelas ini, tentu kita bisa semprot tanaman lebih presisi …

SAGA Channel Network and Drainage Basins

SAGA sebenarnya cukup mumpuni dalam pengolahan DEM. Beberapa hari ini saya sibuk mempelajari SAGA, jadi mohon maaf kalu agak kurang bagus, karena juga namanya orang baru belajar. Saya ingin sedikit sharing dengan pengalaman saya.

Splash screen saga

Terlalu lama menggunakan QGIS, akibatnya punya banyak SAGA

Cara tercepat membuka SAGA kalau Anda memiliki banyak versi QGIS, adalah dengan melalui start->run atau tombol Windows+R, lalu ketikkan ke path saga anda. Kenapa saya suka seperti ini? karena saya punya banyak versi QGIS, dan untuk saat ini versi QGIS nya adalah 3.8, dan saya install semua di drive D:, karena kalau install ulang ngga akan terhapus, tinggal dijalankan saja, karena mostly mereka portabel.

SRS/ CRS Harus sama

Tips lain adalah dengan melakukan warp ( reproject) dahulu raster kita dari WGS84 (EPSG:4326) menjadi UTM atau TM3, sehingga nanti kalau ada pengukuran atau spatial query dengan shp lain, tidak akan bermasalah dan lebih cepat. Termasuk di sini adalah SHP kita, sebaiknya di reproject ke SRS yang sama. Untuk kali ini saya menggunakan UTM Zona 47 Utara, EPSG:32647, karena mostly data saya ada di Kabupaten Kampar & Pekanbaru.

RAW is faster than compressed (deflate) GeoTIFF (via QGIS call saga_cmd)

Memproses GeoTIFF yang saya kompres agar lebih kecil ukurannya, sepertinya sering mengalami hal aneh. Memang kalau tidak dikompress, ukuran akan menjadi gila besarnya dan cepat menghabiskan space harddisk, tapi sepertinya kalau memang untuk processing, kita mengalah dulu. Nanti, begitu sudah selesai, baru hasil akhir dikompres.

Wilayah jangan gede-gede, cukup dikit-dikit aja dahulu

Sebaiknya, dicoba dulu dengan grid yang kecil, nanti baru kalau dirasa cukup, baru diperbesar (diperluas) grid kita. Saya mencoba meproses grid yang besar semalaman (laptop ditinggalin tidur) hanya untuk mengetahui bahwa ternyata parameter nya tidak bagus, dan mesti di ulang lagi. Tentu kalau saya uji di sample dulu (misalnya kita potong wilayah kecil saja dahulu), tentu akan lebih menghemat waktu.

QGIS version of SAGA vs “native” SAGA GUI

Nah, ini yang kadang bikin bingung dan sedih. Hasil olahan SAGA stand-alone yang dipanggil via saga_gui.exe, terkadang sedikit berbeda dengan hasil QGIS processing yang memanggil saga_cmd

SAGA Module vs Algorithm

Nah ini bikin nyesek. Algoritma Strahler Order yang dipanggil via Module Strahler Order entah kenapa berbeda dengan hasil algoritma tersebut jika dipanggil via modul lain, misalnya Channel Network and Drainage Basins. Kedua modul tersebut menghasilkan output grid yang sama, tetapi kok hasilnya beda, padahal inputnya kan sama. Asumsi saya adalah karena saya yang salah input. Mungkin.

QGIS Identification berbeda sedikit antara WGS84 dengan UTM

Nah, ini mungkin kesalahan GDAL? Atau apa? DEMNAS yang saya warp dari WGS84 ke UTM kok pada titik yang sama, saat saya identifikasi sedikit berbeda nilainya. Kalau nilainya sedikit tidak masalah, namun selisih 9 meter di daerah sekitar sungai saya rasa sangat menyedihkan.

Pertama kali lihat ini saja saya langsung curiga THERE MUST BE SOME THING WRONG dengan GDAL?

Nah, silahkan lihat hasil klik pada peta… ini SATU TITIK yang SAMA, tetapi kok bisa berbeda ketinggian nya ya …

UTM mengatakan bahwa tingginya 35m, sedangkan DEMNAS dari BIG mengatakan bahwa tingginya hanya 28m.

Wew, seharusnya gambarnya identik, kan? karena sumber sama, algoritma sama …? Ada yang tahu kenapa?

MapServer Raster Color Ramp

Sudah lama saya tidak otak-atik MapServer, ternyata Raster nya mendukung Color Ramp.

Apa itu Color Ramp?

Color Ramp memungkinkan kita membuat dua warna yang berbeda: warna mula dan warna akhir. Nah, nantinya warna ini akan menjadi warna yang digunakan oleh MapServer menampilkan raster kita.

Berguna dalam DEM

Jika kita punya data DEM (Digital Elevation Model), default gambar yang ditampilkan adalah hitam-putih (greyscale) yang tentu membosankan. Agar citra raster DEM tadi lebih menarik, salah satu cara adalah dengan diwarnai. Silahkan lihat perbandingannya:

Berikut contoh petikan kode yang saya gunakan untuk mewarnai DEM tadi:

ColorRange formatnya adalah kode RGB warna awal lalu RGB warna akhir dari batas kita

Darimana dapat Angka -7 dan 91?

… itu dari statistik DEM kota Pekanbaru tadi, yaitu titik terendah adalah -7 dan ter-tinggi adalah 91m dari permukaan laut. Saya taunya setelah dibuka di QGIS.

MapServer vs QGIS

DEM yang sama di QGIS

Ya, ngga bisa dibandingkan lah, karena QGIS lebih banyak fitur untuk menampilkan peta yang bagus. Contohnya untuk data DEM yang sama, tapi di QGIS hasilnya kek gambar di atas. Di QGIS, ada fitur perwanaan Hillshading dan ada blending options, hampir semewah sotosop, sehingga lebih bagus hasil peta kita.

Buat yang ingin mendownload hasil QGIS, yang 300dpi, walaupun agak jelek (jelek karena saya hanya menggunakan DEM dari SRTM, bukan dari DEMNAS), sila ke Google Drive saya. Tenang, ngga dipassword dan ngga perlu follow IG saya …

https://drive.google.com/open?id=1fejidVvZI0lh1OgYX5BqhL8VM9D8tIlQ

Blending Options

Blending Options adalah fitur yang keren banget dalam pembuatan peta. Walaupun MapServer dukung dengan membuat COMPOSITE , setidaknya itu kata dokumentasinya, dan SIYALNYA SAYA TIDAK BISA, mungkin karena beda versi. Padahal, kalau bisa, saya ingin melakukan efek lighten, seperti yang saya buat dengan QGIS pada gambar di atas.

Di MapServer, saya hanya bisa menggunakan OPACITY , yaitu tingkat transparansi layer. Dengan Opacity 15, saya menghasilkan efek seperti pada gambar MapServer di Galeri perbandingan.

The COMPOSITE block is used to achieve blending effects with MapServer.
Some cartographic renderings benefit from the addition of advanced blending modes, as explained in detail in Blend
Modes. This functionality is essential for more pleasant renderings of raster hillshadings over vector surfaces. It is also useful for simulating different kinds of overprinting effects.

MapServer Documentation, Release 7.0.7, 4.1.4 COMPOSITE

Referensi

Mau tau lebih lanjut tentang Color Ramps, sila lihat wiki MapServer di Github, pada tautan berikut:

https://github.com/mapserver/mapserver/wiki/Color-Ramps/

[unsolved] qgis error IN gEOrEFERENCING

Sebenarnya ngga error sepenuhnya. Error hanya terjadi jika dilakukan liner transformation dan hanya untuk menghasilkan file WLD (WorldFile) saja. File WorldFile yang dihasilkan seharusnya benar, namun entah kenapa saat ditampilkan ke QGIS, malah posisinya tidak pas.

Namun, jika diubah ke proyektif, aman-aman jaya saja.

Kenapa Mesti Linear?

Linear Transformation hanya untuk menghasilkan file WLD, dan tidak harus menghasilkan citra/gambar baru. Ini bisa menjadi masalah jika gambar kita besar, maka akan terdapat dua buah gambar, gambar awal yang belum ter-geo-referencing dan gambar kedua hasil georefencingnya. Lihat gambar contoh di bawah ini.

Gambar awal hanya 4MB membengkak menjadi 82MB saat di-georeferencing, padahal sudah dikompres menggunakan algoritma LZW

Seharusnya file WLD dan AUX.XML sudah dapat digunakan untuk menampilkan gambar tersebut di QGIS. Selama ini Oke Oke Saja, namun entah kenapa kali ini error.

Hasil georeferencing pemnggunakan proyektif, benar dan tepat

Gambar di atas adalah gambar seharusnya. Sengaja ditransparanan sebentar untuk memperlihatkan akurasi peta klasik zaman Hindia Belanda.

Gambar kedua, di bawah ini, error, padahal file WLD nya benar

Barangkali ada yang pernah mengalama seperti saya ini?

Ada yang tahu?

DOwnload MODIS Terra NDVI 8hari indonesia

Setelah sibuk dikoding dari maghrib tadi … alhamdulillah selesai …

Namun, ternyata tanggal saya salah setting … 2016-11-27

https://drive.google.com/open?id=1sgeQNPltJnPqDzWxbl4FoYbNpqDYgevf

Hahahah .. tapi ndak apa apa .. barangkali ada yang mau koleksi citra NDVI Indonesia, barangkali mereka yang di dinas perkebunan atau pertanian atau kehutanan

Native resolution untuk M7 ini adalah mendekati skala 2juta (bagus untuk dicetak di peta 1:2jt)

Ukuran citra 11776 x 5120 pixel, jadi masih layak untuk dibuka di laptop jadul.

Apa itu NDVI?

NDVI penting untuk melihat apakah kebun kita sehat atau tidak. Semakin rimbun dedaunan, semakin tinggi (mendekati 1) NDVI nya. Kalau mau baca versi bahasa sumbar nya (dari web nya NASA):

Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) (rolling 8-day)Temporal coverage: 30 July 2016 – Present *View Dates

The MODIS Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) layer is a measure of the greenness and health of vegetation. The index is calculated based on how much red and near-infrared light is reflected by plant leaves. The index values range from -0.2 to 1 where higher values (0.3 to 1) indicate areas covered by green, leafy vegetation and lower values (0 to 0.3) indicate areas where there is little or no vegetation. Areas with a lot of green leaf growth, indicates the presence of chlorophyll which reflects more infrared light and less visible light, are depicted in dark green colors, areas with some green leaf growth are in light greens, and areas with little to no vegetation growth are depicted in tan colors.

The MODIS rolling 8-day NDVI layer is available as a near real-time, rolling 8-day product (MOD13Q4N) from from the Terra satellite. It is created from a rolling 8-day land surface reflectance product, MOD09Q1N. The sensor resolution is 250 m, imagery resolution is 250 m, and the temporal resolution is an 8-day product which is updated daily.

References: NASA Earth Observatory – Measuring VegetationNASA Earthdata – New Vegetation Indices and Surface Reflectance Products Available from LANCENASA NEO – Vegetation Index

Download MODIS Terra Chlorophyll A untuk Indonesia

Silahkan #download #citrasatelit #MODIS #klorofil untuk Indonesia tanggal 27 dan 28 Juli 2019

https://drive.google.com/drive/folders/1REDq36q9cYWTt8vJ3QceF91TZbxsRmRo?usp=sharing

Gambar sudah saya georeferencing, sehingga bisa langsung dibuka di #ArcGIS dan atau #QGIS

Nah, berhubung ini citra satelit, terkadang kita terkendala awan. Kendala lain adalah diluar swath satelit. Di gambar terlihat putih, karena NO DATA.

swathe /swO;T, swQT/ (chiefly N. Amer. also swath /sweID/)
· n. (pl. swathes or swaths /swO;Ts, swO;Ds, swQTs/)
1 a row or line of grass, corn, etc. as it falls when mown or reaped.
2 a broad strip or area: vast swathes of countryside.
– PHRASES cut a swathe through pass through (an area) causing destruction or upheaval. cut a wide swathe N. Amer. attract much attention.
– ORIGIN OE swæth, swathu ‘track, trace’, of W. Gmc origin.

Pentingnya Klorofil A

Klorofil A biasanya menunjukkan fitoplankton di laut, sehingga seharusnya, jika banyak plankton, maka spongbob eh petrik eh ikan juga akan banyak, karena mereka memakan plankton. Dengan ini, nelayan jadi tau ke mana harus melaut … well, nelayan yang ngerti RemoteSensing 😀

Download BlueMarble NG

BluemarbleNextGeneration adalah versi baru dari BlueMarble.

BlueMarble lama, “hanya” lah hasil penggabungan data 4 bulan MODIS, dan memiliki level detail 1 kilometer persegi per pixel.

BlueMarbleNextGeneration (ini NASA ngikut ngikut UI bikin siak NG), merupakan komposisi data setahun, dan memiliki resolusi spasial 500 meter per pixel.

Eh, kalau mau baca versi resminya, ke web nya Nasa saja, ya …

https://visibleearth.nasa.gov/view.php?id=74117

Nah, di sana, Anda tinggal dowload. Ada dua versi, Anda tidak perlu download semua. Versi JPG cocok untuk kebutuhan sehari-hari, lebih kecil namun sedikit lossless (ada detail yang hilang). Versi PNG kalau Anda niat mau membuat produk seperti digital printing dsb. Warning: file nya guedde!

WARNING: file nya gede, jadi jangan langsung dibuka, tapi klik kanan, save-as!

Nah, yang agak kurang dari file ini adalah tidak ada file WORLD nya dan AUX nya. Sehingga, kalau dibuka di QGIS atau ArcGIS, belum ter-geo-referencing.

Nah, sebenarnya, kalau Anda mengikuti tulisan saya, Anda pasti bisa buat sendiri WORLDFILE dan AUXILIARYFILE nya.

Tapi, buat yang malas bikin sendiri, dapat download dari google drive saya.

https://drive.google.com/open?id=1Wr8Wp3-K2-SPijMy1YCj-e5af6ZSnAhT

Tampilan BlueMarble pas posisinya dengan layer continent di ArcMap

Cara Agar BlueMarbleNG tampil di QGIS:

  1. Download citra JPG blue marble next generation resolusi 8 km di sini https://eoimages.gsfc.nasa.gov/images/imagerecords/74000/74117/world.200408.3x5400x2700.jpg
  2. Download file World nya di sini:
    https://drive.google.com/open?id=1GQ5YuyezdJFtTutfBUr5ljzREh9aKMI1
  3. Download file AUXILIARY nya di sini:
    https://drive.google.com/open?id=1IZGk6aG34WyiOV1Hrs7PL-I_T1hIMcd4
  4. Pastikan ketiga file itu terdapat pada folder yang sama
  5. Buka file JPG nya ke QGIS
Tampilan Blue Marble di QGIS