Arsip Kategori: QGIS

QGIS OpenLayers Plugin

Kali ini kita akan bermain-main dengan QGIS OpenLayers Plugin, yang dapat menambahkan beberapa peta dari beberapa penyedia, seperti Google Maps, Microsoft Bing Aerial (untuk citra satelit), Microsoft Bing Road (untuk jalan), OSM, MapQuest, dan Apple Maps.

menu.png

Jika Anda telah menambahkan plugin tersebut ke QGIS Anda, maka akan ada menu seperti terlihat di atas. Dengan memilih salah satu pilihan menunya, Anda dapat nemanbahkan sebuah layer raster yang berisi peta dari masing-masing provider tersebut di atas layer yang sedang aktif (bukan di bawah). Akibatnya, terkadang Anda harus menggeser kembali urutan layer agar lapisan peta ini tidak menutupi peta yang Anda telah buat sebelumnya.

Setelah layer ditambahkan, Anda dapat simpan hasil tampilannya ke gambar, jangan ke format *.qgis, tapi ke gambar melalui menu Project -> Save as Image…save as image.png

Pilihan Save as Image… akan menyimpan tampilan QGIS sekarang ke sebuah berkas gambar berformat PNG dengan diikuti file WORLD nya.

hasil.png

Nah, disinilah power QGIS.

File World itu disimpan dengan nama *.pngw, seperti terlihat pada gambar di atas.

File ini menyimpan posisi gambar tersebut pada peta dunia, NAMUN TIDAK EPSG nya. Untuk menambahkan kembali gambar atau citra raster tersebut ke QGIS, Anda harus memilih EPSG 3857, yang lebih terkenal dengan sebutan WGS 84 / Pseudo Mercator, atau kalau Anda mengerti, berikut ini CRS nya:

+proj=merc +a=6378137 +b=6378137 +lat_ts=0.0 +lon_0=0.0 +x_0=0.0 +y_0=0 +k=1.0 +units=m +nadgrids=@null +wktext +no_defs

 

Jika citra tersebut telah Anda simpan dan Anda load kembali ke QGIS, Anda dapat kemudian mengolahnya untuk dijadikan kembali vector dengan polygonize … insyaAllah akan kita bahas di lain waktu.

 

QGIS 2.12 Lyon

QGIS 2.12 2015-10-25_07-50-13

QGIS 2.12, dengan kode nama Lyon, telah dapat diunduh dan diinstal dari OSGeo4W, dan cukup membuat trauma saya saat update karena banyak sekali pesan error missing dll.

ippj-5.3.dll

Sebenarnya, cara yang lebih baik adalah meng-update ippj juga, namun saya lebih suka dengan cara keras.

Solusinya adalah “hard reset”, yaitu menghapus semua isi C:\OSGeo4W\ kemudian install kembali.

Padahal, isi folder tersebut sudah lebih dari 7 Giga.

Warning:

Ada kecenderungan mahasiswa (dan juga saya) untuk mencentang semua paket atau beberapa paket dengan OSGeo4W. Padahal, kebiasaan ini tidak baik, karena beberapa paket kadang membutuhkan paket yang lain, dan beberapa paket mungkin tidak kompatibel dengan data lama Anda. Jadi, HARAP HANYA INSTALL PAKET YANG ANDA BUTUHKAN, misalnya kalau hanya butuh QGIS, maka cukup install qgis saja, tanpa install yang lain

Nantinya, kalau masih ada pesan error missing dll, sila di jalankan kembali installer osgeo4w-nya dan cari nama library tersebut. contoh:

qca

qca.dll is missing from your computer.

Solusinya adalah cari lagi di osgeo4w dan install … ternyata memang belum di install …

centang paket qca-libs yang memang belum tercentang
centang paket qca-libs yang memang belum tercentang

Nah, setelah sukses menginstall berkas 600an kilo tersebut, jalankan kembali QGIS, dan Alhamdulillah, puji tuhan, jalan kembali …

WGS 84 / UTM Zone 47N

Salah satu alasan kenapa sebaiknya kita menggunakan CRS WGS 84 / UTM Zone 47N saat membuat peta Kota Pekanbaru adalah karena WGS 84 / UTM Zone 47N menggunakan satuan meter, dan tidaklah derajat, sebagaimana WGS 84 saja.

WGS 84 / UTM Zone 47N kode EPSG-nya adalah EPSG:32647.

Sila lihat bagaimana bentuk bumi jika diproyeksi dengan EPSG:32647 di bawah ini:

EPSG_32647

Nantinya, jika kita menggunakan EPSG:32647 tersebut, saat menghitung $area di QGIS, maka hasilnya adalah dalam meter persegi (square meters), dan $length akan berisi panjang length geometri pun dalam meter.

Jika masih menggunakan WGS 84 saja, maka semua perhitungan tersebut dalam derajat. Makanya, jangan heran saat Anda menghitung jalan yang sangat panjang, tetapi panjangnya hanya 0,7, itu bukan dalam mil, tetapi dalam derajat (jika menggunakan WGS 84, secara default)

Meranti in threejs

meranti QGIS three.js

Jika Anda mengikuti tulisan sebelum ini tentang QGIS + ThreeJS, maka ternyata sangat mudah sekali dalam menghasilkan animasi 3D dengan QGIS + ThreeJS dengan plugin QGIS2ThreeJS. Cukup buat sebuah peta dengan QGIS, cari sebuah layer DEM (Anda bisa dapat dari GMTED 2010 atau SRTM v3, keduanya dari USGS), pastikan QGIS terinstall pluginnya, nanti bakal ada menu baru Web –> Qgis2threejs.

Kalau Anda mengubah sendiri HTMLnya, perhatian bahwa ada kodingan JavaScript yang harus menghasilkan sebuah DOM HTML yang ber-id “lib_proj4js”, dan kalau tidak ada, maka animasi tidak akan keluar. Jadi, untuk amannya, Anda kalau mengubah HTML, harus dikomen baris berikut:


//if (typeof proj4 !== "undefined") document.getElementById("lib_proj4js").style.display = "list-item";

In case, Anda harus mengubah panel, maka yang harus diubah adalah di dat-gui_panel.js. Pada file tersebut, terdapat fungsi


addCustomPlaneFolder: function () {

dimana terdapat variabel zMin dan zMax untuk ketinggian plane. Untuk meranti, sebaiknya angkanya dibuat jangan terlalu jauh, karena ketinggian kita hanya 0 – 41 dari permukaan laut.

GIS For Biologists: Tip #6 – How To Transform A Data Layer Into A Different Projection/Coordinate System

GIS In Ecology

Most of the common problems that people encounter when using GIS for biological purposes are caused by one, or more, data layers not being in the same projection/coordinate system (also known as the coordinate reference system of CRS, depending on the GIS software that you are using) as either the GIS project itself, or other data layers in the GIS project. This means that once you have set your projection/coordinate system for your GIS project (see video tip #4) and added data layers to your GIS project (see video tip #5), you may need to transform one or more of them into a different projection/coordinate system, and more specifically into the same projection/coordinate system as your GIS project, before you can do anything with it.

Transforming a data layer from projection/coordinate system to another is easy to do, and can done in a similar way in most GIS software…

Lihat pos aslinya 59 kata lagi